Tutup

Layanan

Situs Lainnya

Pertiba Startup & Network

Ketika Budaya Kerja Menggerus Kesehatan Mental Pegawai

Ketika Budaya Kerja Menggerus Kesehatan Mental Pegawai
Rahmad Firdaus, S.Kel., M.M Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Pertiba

"Tidak semua pegawai pulang dalam keadaan lelah karena pekerjaannya.

Sebagian pulang membawa kelelahan karena budaya yang mereka hadapi setiap hari."

Organisasi pada era modern dituntut untuk bekerja semakin cepat, adaptif, dan produktif. Berbagai indikator kinerja disusun untuk memastikan target tercapai, sementara inovasi terus didorong agar organisasi mampu bertahan menghadapi perubahan. Namun, di balik berbagai ukuran keberhasilan tersebut, terdapat satu aspek yang sering luput dari perhatian, yaitu kualitas interaksi antarmanusia di tempat kerja. Padahal, World Health Organization (WHO) dan International Labour Organization (ILO) menegaskan bahwa lingkungan kerja yang sehat bukan hanya berkaitan dengan keselamatan fisik, tetapi juga kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis para pekerja. Ironisnya, ancaman terhadap kesehatan mental pegawai tidak selalu berasal dari tingginya target, beratnya beban pekerjaan, atau keterbatasan sumber daya. Tekanan justru muncul dari budaya interaksi yang berkembang setiap hari. Tekanan ini tidak tertulis dalam peraturan organisasi, tidak tercantum dalam indikator kinerja, bahkan sering dianggap sebagai bagian yang wajar dari dinamika organisasi. Padahal, dampaknya dapat jauh lebih besar daripada yang terlihat di permukaan.

Budaya kerja tidak dimaknai semata-mata sebagai kedisiplinan, etos kerja, kepatuhan terhadap prosedur, ataupun kemampuan mencapai target organisasi. Budaya kerja juga tercermin dalam cara orang-orang di dalam organisasi berinteraksi setiap hari. Cara mereka berkomunikasi, menyikapi perbedaan pendapat, membangun kepercayaan, menyelesaikan konflik, serta memperlakukan sesama rekan kerja merupakan cerminan budaya organisasi yang sesungguhnya. Sering kali, justru aspek inilah yang menentukan apakah organisasi menjadi tempat yang mendorong pertumbuhan atau sebaliknya menjadi sumber tekanan psikologis bagi para pegawainya. Fenomena tersebut sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Percakapan yang semula bertujuan berbagi informasi perlahan berubah menjadi gosip. Perbedaan pendapat berkembang menjadi pembentukan opini terhadap individu tertentu tanpa adanya ruang klarifikasi. Kompetensi tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran penghargaan karena kedekatan dengan pihak tertentu terkadang dianggap lebih menentukan. Budaya "asal bapak senang" memperoleh ruang yang lebih besar dibandingkan keberanian menyampaikan kritik yang konstruktif. Tidak jarang muncul perilaku saling memengaruhi, saling menunjukkan kemampuan demi memperoleh pengakuan, bahkan saling menjatuhkan untuk mempertahankan posisi.

Pada saat yang sama, kelompok-kelompok kecil mulai terbentuk bukan karena kebutuhan pekerjaan, melainkan karena kedekatan personal, rasa aman, atau kepentingan tertentu. Sekat antarbagian semakin terasa, ego sektoral menguat, sementara komunikasi lintas unit menjadi semakin sulit. Yang lebih memprihatinkan, dalam beberapa situasi masih dijumpai pemimpin yang lebih cepat memberikan penilaian daripada mendengarkan, lebih mudah mengoreksi bawahan daripada melakukan introspeksi terhadap sistem maupun gaya kepemimpinannya sendiri. Akibatnya, hubungan antara pemimpin dan pegawai perlahan berubah dari hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan menjadi hubungan yang dipenuhi kehati-hatian. Apabila diamati secara terpisah, fenomena-fenomena tersebut mungkin terlihat sebagai persoalan kecil. Namun, ketika berlangsung terus-menerus tanpa adanya koreksi, semuanya berubah menjadi pola perilaku yang diterima sebagai sesuatu yang lumrah. Edgar H. Schein menjelaskan bahwa budaya organisasi tidak dibentuk oleh slogan, visi, atau nilai-nilai yang tertulis dalam dokumen resmi, melainkan oleh perilaku yang terus diulang dan akhirnya dianggap sebagai cara yang normal dalam menjalankan kehidupan organisasi. Dengan demikian, budaya organisasi sesungguhnya bukanlah apa yang dikatakan organisasi tentang dirinya, melainkan apa yang setiap hari dipraktikkan oleh orang-orang di dalamnya.

Ketika perilaku negatif memperoleh toleransi, pegawai perlahan menyesuaikan diri agar dapat bertahan dalam lingkungan tersebut. Fokus mereka tidak lagi sepenuhnya tertuju pada bagaimana memberikan kontribusi terbaik bagi organisasi. Sebaliknya, mereka mulai memikirkan bagaimana menjaga diri, menghindari konflik, memastikan ucapannya tidak disalahartikan, atau mencari posisi yang dianggap paling aman. Energi yang seharusnya digunakan untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas pekerjaan akhirnya lebih banyak tersita untuk menghadapi dinamika sosial yang berkembang di lingkungan kerja. Tidak mengherankan apabila banyak pegawai kemudian memilih diam. Diam sering kali dipersepsikan sebagai rendahnya kepedulian atau kurangnya inisiatif. Padahal, dalam banyak kasus, diam merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan yang dirasakan tidak aman. Amy Edmondson melalui konsep psychological safety menjelaskan bahwa seseorang akan berani menyampaikan pendapat, mengemukakan gagasan, bahkan mengakui kesalahan apabila ia merasa aman dari risiko dipermalukan, diabaikan, atau menerima konsekuensi negatif. Sebaliknya, ketika rasa aman psikologis menghilang, pegawai lebih memilih menyimpan pikirannya sendiri. Organisasi memang tampak tenang karena hampir tidak ada perdebatan, tetapi ketenangan tersebut belum tentu mencerminkan organisasi yang sehat. Bisa jadi, yang hilang justru keberanian untuk berbicara secara jujur.

Bersamaan dengan itu, rasa saling percaya mulai terkikis. Pegawai menjadi lebih berhati-hati dalam berkomunikasi, lebih selektif dalam berbagi informasi, dan lebih nyaman berdiskusi di dalam kelompok kecil daripada secara terbuka. Mayer, Davis, dan Schoorman menjelaskan bahwa kepercayaan dibangun melalui kompetensi, integritas, dan niat baik. Ketika ketiga unsur tersebut mulai diragukan, hubungan kerja berubah menjadi hubungan yang dipenuhi kewaspadaan. Kolaborasi menjadi formalitas, sementara rasa memiliki terhadap organisasi semakin melemah. Yang paling memprihatinkan, dampaknya tidak selalu terlihat secara langsung. Program kerja tetap berjalan, target tetap tercapai, rapat tetap terlaksana, bahkan laporan kinerja mungkin menunjukkan hasil yang memuaskan. Akan tetapi, di balik semua itu, organisasi perlahan kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu semangat, kreativitas, keberanian, dan keterikatan emosional pegawainya. Mereka tetap hadir setiap hari, tetapi tidak lagi bekerja dengan antusiasme yang sama. Mereka menyelesaikan tugas, tetapi enggan memberikan gagasan baru. Mereka hadir secara fisik, tetapi mulai menjauh secara psikologis dari organisasi.

Di sinilah budaya kerja mulai menggerus kesehatan mental pegawai. Bukan semata-mata karena banyaknya pekerjaan, melainkan karena energi psikologis mereka terus terkuras untuk menghadapi hubungan sosial yang tidak sehat. Rasa curiga, komunikasi yang buruk, politik organisasi, rendahnya kepercayaan, dan ketidakpastian dalam berinteraksi menjadi tekanan yang berlangsung setiap hari. Apabila kondisi tersebut terus dibiarkan, organisasi bukan hanya berisiko mengalami penurunan produktivitas, tetapi juga kehilangan orang-orang terbaik yang memilih menarik diri secara emosional atau mencari lingkungan kerja yang lebih sehat. Persoalan ini seharusnya tidak dipandang sebagai masalah pribadi pegawai semata. Kesehatan mental merupakan tanggung jawab bersama yang dipengaruhi oleh kualitas lingkungan kerja. Organisasi yang membiarkan budaya saling curiga, komunikasi yang tidak sehat, dan politik organisasi berkembang tanpa koreksi sesungguhnya sedang menciptakan risiko bagi keberlanjutan organisasinya sendiri. Sebab, organisasi tidak hanya membutuhkan pegawai yang kompeten, tetapi juga membutuhkan lingkungan yang memungkinkan kompetensi tersebut tumbuh dan berkembang.

Oleh karena itu, membangun budaya kerja yang sehat tidak cukup dilakukan melalui penyusunan aturan baru, pelatihan sesaat, atau pemasangan slogan-slogan organisasi. Perubahan harus dimulai dari perilaku sehari-hari. Pemimpin perlu membangun ruang dialog yang aman, mendengar sebelum menilai, dan menunjukkan keteladanan melalui integritas serta introspeksi diri. Pada saat yang sama, setiap pegawai memiliki tanggung jawab untuk menghentikan kebiasaan yang merusak kepercayaan, mengedepankan komunikasi yang jujur, menghargai perbedaan pendapat, serta menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Pada akhirnya, budaya kerja bukanlah sesuatu yang diwariskan oleh organisasi, melainkan sesuatu yang diciptakan setiap hari oleh setiap orang yang menjadi bagian di dalamnya. Sebelum bertanya mengapa semakin banyak pegawai merasa lelah secara emosional, kehilangan semangat, atau memilih diam, mungkin ada satu pertanyaan yang lebih mendasar yang perlu kita renungkan bersama budaya seperti apa yang sedang kita bangun, dan budaya seperti apa yang selama ini kita biarkan tumbuh? Sebab organisasi yang benar-benar unggul bukan hanya organisasi yang berhasil mencapai target kinerja, tetapi organisasi yang mampu menjaga kepercayaan, martabat, dan kesehatan mental setiap insan yang bekerja di dalamnya. Ketika manusia merasa dihargai, didengar, dipercaya, dan diperlakukan secara adil, kinerja bukan lagi sekadar target yang harus dicapai, melainkan menjadi konsekuensi alami dari budaya organisasi yang sehat. Di situlah organisasi tidak hanya berhasil mencapai tujuan, tetapi juga berhasil memanusiakan manusia yang menjadi kekuatan utamanya.