Hidayat Arsani dan Pertiba: Merajut Kolaborasi Intelektual untuk Masa Depan Bangka Belitung
Pertemuan silaturahmi antara jajaran Yayasan dan Universitas Pertiba dengan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Dr. (H.C.) Hidayat Arsani, beberapa waktu lalu menghadirkan sebuah pesan penting tentang arah pembangunan daerah yang membutuhkan kolaborasi antara kekuatan politik dan kekuatan intelektual.
Dalam pertemuan yang dihadiri Ketua Yayasan Pertiba Adi Suputra, Rektor Suhardi, Wakil Rektor II Eddy Supriadi, Wakil Rektor III Eko Riyadi, Dekan Fakultas Hukum Syafriansyah, Ketua Program Studi Magister Hukum Adistya Sugara, Wakil Dekan Fakultas Ekonomi Firdaus, Ari Mardani selaku Pengawas Yayasan, serta unsur pimpinan lainnya, suasana dialog berlangsung hangat, terbuka, dan penuh gagasan tentang masa depan Bangka Belitung.
Yang menarik dari pertemuan tersebut bukan hanya substansi pembicaraan, tetapi juga karakter kepemimpinan yang diperlihatkan Hidayat Arsani. Sebagai seorang gubernur sekaligus tokoh politik, ia menunjukkan sikap yang relatif berbeda dari praktik politik kekuasaan yang sering berkembang di daerah. Jabatan gubernur tidak ditempatkan sebagai instrumen memperluas pengaruh politik, melainkan sebagai sarana menghadirkan pelayanan dan solusi bagi masyarakat.
Politik sebagai Pengabdian
Dalam filsafat politik klasik, pemimpin ideal adalah mereka yang menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk mencapai kemaslahatan umum (bonum commune). Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Aristoteles bahwa tujuan politik bukanlah mempertahankan kekuasaan, melainkan menciptakan kehidupan yang baik bagi masyarakat.
Di tengah realitas politik modern yang sering diwarnai persaingan kepentingan, Hidayat Arsani tampak berusaha menampilkan wajah politik yang lebih substantif. Ia berbicara tentang pendidikan, kesehatan, persoalan sosial, dan pembangunan manusia sebagai prioritas utama pemerintahan. Bahkan dalam dialog bersama kalangan akademisi Pertiba, hampir tidak terlihat upaya untuk membawa forum ke dalam kepentingan politik praktis.
Sikap tersebut penting karena masyarakat saat ini semakin membutuhkan pemimpin yang mampu membedakan antara jabatan politik dan tanggung jawab pemerintahan. Politik boleh menjadi kendaraan menuju kekuasaan, tetapi setelah mandat diberikan rakyat, orientasi utama haruslah pelayanan publik.
Kerendahan Hati Intelektual Seorang Pemimpin
Secara filosofis, salah satu karakter yang menonjol dari Hidayat Arsani adalah kesadaran akan keterbatasan dirinya. Dalam berbagai kesempatan, ia tidak menempatkan diri sebagai orang yang mengetahui segala hal. Justru sebaliknya, ia membuka ruang dialog dan menerima masukan dari berbagai kalangan, termasuk perguruan tinggi.
Dalam teori kepemimpinan modern, sikap ini dikenal sebagai intellectual humility atau kerendahan hati intelektual. Pemimpin yang memiliki karakter tersebut memahami bahwa kompleksitas persoalan publik tidak dapat diselesaikan hanya dengan pengalaman pribadi atau kekuasaan formal semata. Dibutuhkan ilmu pengetahuan, riset, dan pemikiran akademik yang objektif.
Karena itu, pertemuan dengan Universitas Pertiba menjadi sangat strategis. Kampus dipandang bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi sebagai mitra pemerintah dalam menghasilkan gagasan, kritik konstruktif, dan solusi berbasis kajian ilmiah.
Di sinilah terlihat bahwa Hidayat Arsani memahami pentingnya sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi. Pemerintah memiliki kewenangan dan sumber daya, sementara kampus memiliki ilmu pengetahuan dan kapasitas intelektual. Ketika keduanya bersatu, maka pembangunan akan memiliki arah yang lebih terukur dan berkelanjutan.
Pertiba sebagai Mitra Pembangunan Daerah
Sebagai salah satu perguruan tinggi yang memiliki sejarah panjang di Bangka Belitung, Pertiba memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk ikut terlibat dalam pembangunan daerah. Kehadiran para pimpinan universitas dalam pertemuan tersebut menunjukkan komitmen institusi untuk mengambil bagian dalam proses transformasi Bangka Belitung.
Dalam perspektif pembangunan modern, perguruan tinggi memiliki tiga fungsi utama, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ketiga fungsi tersebut dapat menjadi fondasi penting dalam mendukung program-program pemerintah daerah, khususnya dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa masa depan Bangka Belitung sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah dan perguruan tinggi membangun kemitraan yang produktif. Daerah ini membutuhkan lebih banyak gagasan, inovasi, dan sumber daya manusia unggul untuk menghadapi tantangan ekonomi pasca-timah dan persaingan global yang semakin ketat.
Kepemimpinan yang Tegas tetapi Humanis
Banyak orang mengenal Hidayat Arsani sebagai sosok yang tegas dan berbicara apa adanya. Namun dalam pertemuan tersebut tampak sisi lain yang lebih humanis. Ia mampu mencairkan suasana melalui humor dan candaan, tetapi tetap fokus pada substansi persoalan.
Gaya komunikasi yang sederhana dan to the point menunjukkan bahwa ia lebih menyukai tindakan dibanding retorika. Dalam konteks birokrasi yang sering terjebak dalam formalitas berlebihan, pendekatan seperti ini menjadi warna tersendiri.
Ketegasan yang dimilikinya bukanlah bentuk otoritarianisme, melainkan ekspresi dari keinginan agar persoalan masyarakat tidak berlarut-larut. Sementara sisi humanisnya tercermin dari perhatian terhadap sektor pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial yang secara langsung menyentuh kebutuhan rakyat.
Penutup
Silaturahmi antara Universitas Pertiba dan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bukan sekadar agenda kelembagaan. Pertemuan tersebut menghadirkan pesan bahwa pembangunan daerah memerlukan pertemuan antara kekuatan moral, intelektual, dan politik.
Di satu sisi, Hidayat Arsani menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak harus dibangun melalui simbol-simbol kekuasaan, tetapi melalui keterbukaan, keberanian mendengar, dan kesediaan menerima masukan dari berbagai pihak. Di sisi lain, Pertiba menunjukkan komitmennya untuk menjadi bagian dari solusi pembangunan daerah melalui kontribusi akademik yang konstruktif.
Pada akhirnya, masa depan Bangka Belitung tidak akan ditentukan oleh siapa yang paling kuat secara politik, melainkan oleh siapa yang paling mampu membangun kolaborasi demi kepentingan masyarakat. Dan pertemuan antara Hidayat Arsani dan keluarga besar Pertiba memberikan harapan bahwa kolaborasi tersebut sedang dirajut untuk masa depan Bangka Belitung yang lebih maju, cerdas, dan bermartabat.
PERTIBAHome
Kirim Tulisan