AI Boleh Pintar, Tapi Jangan Kita yang Malas
Oleh: Eddy Supriadi Akademisi Universitas Pertiba
Ada yang lucu sekaligus ironis dalam era digital ini manusia semakin bangga menulis cepat, tapi semakin jarang berpikir pelan. Setelah muncul ChatGPT, Gemini, dan kawan-kawannya, tulisan-tulisan bertebaran di mana-mana dari status media sosial, artikel opini, sampai skripsi yang katanya “hasil riset”. Tapi jujur saja, kadang hasilnya lebih mirip laporan mesin daripada suara hati manusia.
Saya membaca tulisan rekan saya, Aditya Ahmad Fauzi, tentang “Tragedi Intelektual Abad Digital”. Peringatan itu penting: kita sedang menghadapi gelombang tulisan tanpa jiwa. Namun saya ingin menambahkan sedikit: jangan buru-buru menyalahkan AI sebab yang malas bukan mesinnya, tapi manusianya.
AI itu seperti cermin. Ia tidak menciptakan karakter baru, hanya memperbesar isi kepala kita. Kalau otak kita penuh bacaan dan refleksi, maka hasilnya menawan. Tapi kalau isinya kosong, ya keluar juga kekosongan hanya saja lebih rapi, dan lebih panjang.
Masalahnya bukan pada alat, tapi pada mentalitas instan. Dulu sebelum ada AI, banyak juga penulis “asli” yang menulis tanpa isi kalimat panjang, tapi pikirannya pendek. Sekarang bedanya cuma satu dulu malas membaca, sekarang malas berpikir karena merasa ada mesin yang bisa melakukannya.
AI bisa menulis tentang kemiskinan, tapi ia tak pernah tahu rasanya hidup susah.
Ia bisa menjelaskan teori moral, tapi tak pernah merasa bersalah.
Ia bisa bicara tentang cinta, tapi tak pernah patah hati.
Jadi, tragedi sebenarnya bukan pada munculnya tulisan hasil AI, tapi pada lenyapnya kejujuran intelektual. Kita terlalu sibuk tampil pintar di ruang digital, tapi lupa untuk jujur pada proses berpikir.
Padahal, AI bisa jadi sahabat intelektual yang luar biasa jika kita menggunakannya dengan nalar dan etika. Ia bisa membantu merapikan tulisan, menstrukturkan ide, dan memperluas wawasan. Tapi tugas menanamkan makna tetap di tangan manusia.
Karena sehebat apa pun algoritma, ia tak bisa menggantikan satu hal jiwa yang berpikir dan hati yang memahami.
AI boleh jadi mesin penulis, tapi manusia tetap pencipta makna.
AI boleh menata kalimat, tapi manusialah yang memberi nurani pada kata.
Jadi, sebelum menyalahkan mesin, mari bercermin dulu
Apakah kita masih berpikir atau hanya mengetik bersama algoritma?
PERTIBAHome
Kirim Tulisan